Story 5 Slide 1 BackgroundStory 4 Slide 1 Title
Swipe Kanan

Berbeda dari cerita sebelumnya, kali ini kami punya alur yang cukup kontradiksi. Pelanggan ini bercerita tentang harapannya dalam membangun sebuah hubungan akan berjalan mulus dipenuhi bunga cantik sebagai tanda kebahagiaan, tapi kenyataannya penuh tikungan tajam menuju jurang yang membuatnya mudah terperosok.

Anehnya, justru luka kecil dari terjatuh itu berubah menjadi bekas yang manis, bekas yang sulit dia hapus meski waktu berusaha mengikisnya. Proses terjatuh itu malah membuat Mas-Mas Jawa ini semakin terikat dengan kekasihnya, yang sering ia panggil 'wanitaku' itu.

Cerita ini bukan hanya tentang dua manusia yang belajar menafsirkan rasa, tapi juga tentang aroma. Aroma itu hadir seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan dari cahaya, sisa dari perjalanan kisah mereka, mulai dari kapan momen bahagia itu hadir hingga kapan mereka runtuh.

Dan seperti biasa, pemeran utama sesungguhnya bukan hanya sepasang kekasih, tapi juga... aroma.

Di hari Kamis malam, langit tampak gelap pekat, bahkan tidak ada satupun bintang yang berkeliaran. Aku sempat takut jika malam itu akan turun hujan dan merusak rencana kencan pertama kami. Iya, dia adalah kekasihku.

Kami melakukan pendekatan dalam waktu yang cukup lama karena terhalang covid dan kami sudah menjalin hubungan beberapa minggu sebelum kami bertemu. Dan saat itu, akan menjadi kencan sekaligus menjadi kali pertama kami bertemu.

Aku jemput dia dengan persiapan yang matang, mulai dari pakaian yang terlihat keren khas Mas-Mas Jawa pada masanya, menggunakan celana corduroy ala skena, lengkap dengan kaos putih polos, dan sepatu docmart di kakiku. Aku menggunakan parfum favoritku.

Ini adalah wangi yang selalu aku pakai kemanapun aku pergi. Saking sukanya dengan parfum ini, aku berpikir jika wanitaku akan semakin nyaman saat bersamaku.

Story 5 Slide 4 Background

Tepat pukul 19.30 aku sampai di depan rumahnya. Dia keluar memakai baju berwarna putih lengkap dengan baggy jeans, sepatu slip on, dan tas putih mini yang ia selempangkan, sangat cantik. Kita memang sempat janjian untuk memakai style dan warna baju yang sama.

Saat pertama kali mataku dan matanya bertemu, kami saling melempar senyum penuh kebahagiaan, sedikit malu-malu karena pada akhirnya tatapan itu tidak lagi terhalang layar handphone dan benar-benar nyata. Sebelum berangkat, aku memujinya dengan sederhana sembari membuka step sebagai tanda agar dia sudah bisa menaiki motorku.

“Haii, cantik banget, sih!” “Hihii” dia hanya tersenyum dan tersipu malu.

Selama di perjalanan menuju tempat makan, aku tidak melihat tanda atau reaksi aneh yang ditunjukkan wanitaku ini. Aku merasa segalanya berjalan sempurna.

Angin malam Jogja membawa wangi parfumku bercampur aroma aspal basah sisa hujan sore tadi. Kami bercanda di atas motor, melempar tebak-tebakan receh biar suasana semakin menyenangkan,

“Liat lampu merah di sini lama banget tau,
bisa sampe 300 detik. Kita ngapain?”

“Hahhaa apasih kamu cuma 5 menit aja, yauda diem-diem aja”

“Gimana kalo kita main tebak-tebakan”

“Tebak-tebakan apa?”

“Malem, malem apa yang bikin seneng?”

“Malem ini?”

“Jiahhh, langsung bener lagi wkwkwk”

“Isthh hahaha” dia cuma ketawa-ketawa saja, padahal candaanku juga sangat-sangat tidak jelas. Pelukannya di pinggangku semakin erat. Di kepalaku, aku semakin yakin jika parfummu berhasil membuatnya nyaman.

Sesampainya di tempat makan, suasana terasa seperti dengan film. Lilin-lilin kecil berkelip, musik pelan mengalun, meja makan dihiasi satu buket bunga mawar. Aku sengaja menyemprotkan parfummu lagi di buket itu, berharap aromanya akan melebur dengan keindahan malam.

Dia mengambil bunga itu, mendekatkannya ke hidung. Sesaat kemudian, aku melihat satu gerak aneh dari raut wajahnya, ekspresinya berubah. Alisnya berkerut, bibirnya menahan sesuatu, tapi hanya dalam hitungan detik, dan wajahnya kembali memancarkan senyumannya sehingga aku tidak menyadari jika itu adalah tanda hal buruk akan terjadi.

Aku hanya mengira dia terharu. Setelahnya, kami lanjut makan malam, obrolan kecil berjalan, tapi aku bisa melihat matanya seperti kehilangan fokus, “Bentar ya aku mau ke toilet dulu” ujarnya.

Saat dia pergi ke toilet, entah kenapa aku malah menyemprotkan lagi parfum ke milikku di sekitaran meja. Aku hanya ingin suasana semakin syahdu dengan wangi yang menenangkan.

Dan itulah awal semua kekacauan terjadi. Wanitaku datang, dan dia mulai menunjukkan raut wajah yang tidak nyaman. “Wanginya nyengat banget” sambil menahan nafas dan tidak lama setelahnya dia muntah ...

“Eh, kamu kenapa?” Ujarku dengan penuh kekhawatiran, karena bagaimana bisa dia tiba-tiba muntah. Semua mata di restoran itu seketika berubah dan tertuju ke arah kami. Suasana yang tadinya romantis mendadak runtuh. Lilin yang berkelip kini terasa seperti sorot lampu yang menjelajahkan. Aku panik, berdiri, meraih bahunya.

“Aku nggak kuat sama wanginya”

“Hahhh?” seketika pikiranku berhenti, aku seperti mati kutu dan habis dipukul rasa malu. Malu karena aku sudah begitu percaya diri jika wanitaku ini nyaman denganku, dengan wangiku, tepat di hari pertama kami kencan.

Sepulang dari kencan itu, aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Di jalanan Jogja yang lengang, hanya ada suara motor dan aroma parfum yang masih melekat di jaketku, aroma yang kini terasa seperti musuh.

Sesampainya di kamar, aku duduk termenung. Lampu terasa terlalu terang, dinding seperti menyempit. Aku buka ponsel, tidak ada pesan balasan darinya. Overthinking menelan habis kepalaku.

“Dia pasti ilfil. Dia pasti mau putus. Semua yang ku perjuangkan selama setahun hancur cuma gara-gara aku kebanyakan pake parfum manis.”

Aku menggenggam botol itu erat-erat, lalu melemparkannya ke tong sampah. Tanganku bergetar, mataku panas. Malam itu aku menangis, bukan hanya karena takut kehilangan dia, tapi juga karena sadar betapa rapuhnya harapan ketika bertemu kenyataan. Tangis itu membawa lelah sampai aku tertidur lelap dengan penuh ketakutan.

Story 5 Slide 9 Background

Dua tahun setelah menginjak sweet seventeen, ayah pulang ke rumah sekaligus merayakan karena aku baru saja diterima di universitas top 3 negeri. Ayah, ibu, adik sangat berbahagia dan bangga padaku.

Ibu memberikanku hadiah sepeda motor, adik memberikanku tas lucu dari longchamp untuk kuliah. Dan saat itu, ayah membelikanku hadiah parfum, katanya dia membelikan parfum itu karena botolnya sangat lucu, berwarna biru, dan wanginya manis bunga, cocok buat aku yang suka aroma lembut.

Ayahku bahkan tahu jelas seperti apa seleraku, sesimpel dalam memilih parfum. Dan sejak saat itu, parfum yang diberikan ayah menjadi media paling berharga yang bisa mengingatkan aku dengan mudah tentang ayah.

Setelah masuk kuliah, aku harus pergi merantau. Kini, bukan hanya jauh dari ayah, tapi juga ibu dan adikku. Dulu, sebelum merantau, aku masih bisa bertemu dengan ayah beberapa bulan sekali, atau melalui video call. Sekarang sudah sangat sulit karena hidupku sudah memiliki tanggung jawab kuliah dengan beban yang cukup berat.

Satu hari setelah kejadian makan itu, aku berhasil mengajak wanitaku bertemu lagi. Kali ini, aku mengajaknya ke store parfum refill yang ada di Jogja, Uchi Parfume. Ini adalah salah satu caraku untuk bisa mempertahankannya.

Aku akan melepas aroma yang sebelumnya dan mengganti dengan yang baru. Tapi parfumnya akan diracik bersama wanitaku.

Ini adalah kali pertama aku mengajak dia meracik parfum sepuasnya, asik juga ternyata. Kami pun menemukan satu wangi yang manis, tapi aromanya tetap lembut dan ringan. Wangi floral dengan sentuhan fresh yang segar. Kata wanitaku, parfum ini adalah parfum milik kita berdua biar orang lain nggak ada yang bisa duplikat wanginya.

“Makasi ya udah ngajak aku ke sini, seru banget bisa pilih parfum sepuasnya dan apapun yang aku request bisa diciptain di sini”

“Di situ letak asiknya, jadi ada eksperimen pas kita nentuin aroma yang paling kita suka”

“Iya, ini parfum kita berdua”

Story 5 Slide 11 Background

Dan sejak saat itu juga, parfum itu menjadi parfum yang kami pakai setiap hari. Parfum yang di dalamnya penuh cerita dan tentang cinta kami berdua.

Walaupun aku juga nggak melepas wangi kue oriental favoritku, bedanya parfum itu hanya jadi pajangan di rumah. Karena bagaimanapun, wangi itu tetap bagian dari perjalanan hidupku dan juga dengan wanitaku ini. Kenangan yang pahit tapi manis, memalukan tapi justru membuatku yakin, kenyamanan dia jauh lebih penting daripada egoku.

Story 2 slide 15 bg

Nah, sejak sore itu, Mas Mas Jawa dan wanitanya itu datang ke store kami. Dan sejak itu pula kami mengumpulkan cerita ini. Mereka melakukan eksperimen wangi cukup lama di sini karena wanitanya terlihat sangat kesenangan dan bingung dalam satu waktu karena terlalu banyak aroma yang dia suka.

Yaa, begitulah aroma. Ia selalu tahu caranya menyimpan cerita, entah itu suka, duka, atau bahkan rasa malu di restoran Jogja. Aroma sering kali lebih lihai menangkap kenangan daripada ingatan kita sendiri.

Begitu juga aroma bagi seorang wanita bernama Awan. Baginya aroma adalah mesin waktu yang bisa membuatnya kembali bernostalgia di masa-masa kuliah, ketika skripsi dan tuntutan pekerjaan di luar kuliah menjadi keharusan.

Sempat hampir menyerah, tapi aroma, lagi-lagi bisa menyelamatkannya. Lantas bagaimana aroma itu berhasil merekam jejak pahit manisnya kehidupan Awan saat itu sehingga menjadi salah satu memori yang begitu sulit untuk dilupakan?

Bersambung ...