Ribuan tahun manusia berevolusi, berbagai macam hal berhasil diciptakan, hingga akhirnya dunia kini tersentuh teknologi. Komunikasi bisa dilakukan dari jarak jauh, berbagai informasi bisa kamu dapatkan dengan mudah, alat-alat canggih, dan luar biasanya AI yang terus memanjakan hidup kita. Berbagai kemudahan kita dapati melalui teknologi untuk menembus batasan-batasan yang sebelumnya hanya dibayangkan melalui langit malam. Namun, dari semua pencapaian itu, satu pertanyaan muncul.
Dari banyaknya batasan yang sudah ditembus teknologi, bisakah kita menciptakan mesin waktu untuk kembali pada masa lalu, datang ke masa kini, dan melintasi masa depan?
Sebuah pertanyaan mustahil yang keluar dari imajinasi belaka, tapi harapan akan menjadi kenyataan tampak menggiurkan, di dalamnya berisi harapan untuk kembali pada satu titik dalam hidup, cerita di masa lalu.
Bilamana mungkin, akan seperti apa bentuknya?
Apakah ia seperti film yang memiliki banyak alur maju mundur, seolah seperti karakter utama yang sedang bulak balik dari scene masa lalu, menuju scene masa kini, dan seterusnya? Atau mungkinkah sebaliknya—ia tidak berbentuk, tidak berbunyi, tidak bergerak, tidak membawa kita pergi, tapi datang melalui aroma, menyelinap diam-diam, menembus pikiran dan membawa kembali pada kenangan?
Masuk akal ...
Ribuan tahun manusia berevolusi, berbagai macam hal berhasil diciptakan, hingga akhirnya dunia kini tersentuh teknologi. Komunikasi bisa dilakukan dari jarak jauh, berbagai informasi bisa kamu dapatkan dengan mudah, alat-alat canggih, dan luar biasanya AI yang terus memanjakan hidup kita.
Berbagai kemudahan kita dapati melalui teknologi untuk menembus batasan-batasan yang sebelumnya hanya dibayangkan melalui langit malam. Namun, dari semua pencapaian itu, satu pertanyaan muncul.
Dari banyaknya batasan yang sudah ditembus teknologi, bisakah kita menciptakan mesin waktu untuk kembali pada masa lalu, datang ke masa kini, dan melintasi masa depan?
Sebuah pertanyaan mustahil yang keluar dari imajinasi belaka, tapi harapan akan menjadi kenyataan tampak menggiurkan, di dalamnya berisi harapan untuk kembali pada satu titik dalam hidup, cerita di masa lalu.
Bilamana mungkin, akan seperti apa bentuknya?
Apakah ia seperti film yang memiliki banyak alur maju mundur, seolah seperti karakter utama yang sedang bulak balik dari scene masa lalu, menuju scene masa kini, dan seterusnya?
Atau mungkinkah sebaliknya—ia tidak berbentuk, tidak berbunyi, tidak bergerak, tidak membawa kita pergi, tapi datang melalui aroma, menyelinap diam-diam, menembus pikiran dan membawa kembali pada kenangan?
Masuk akal ...
Sejak kami menampung banyaknya cerita, kami memutuskan untuk menjadi tempat bagi setiap cerita yang ingin kalian simpan melalui aroma.
Kami datang membawa Mesin Waktu itu untuk kalian
Karena rupanya, wangi adalah satu-satunya hal yang bisa menyimpan cerita. Tanpa harus berjalan satu langkah pun, tanpa perlu memaksa mengingat, tanpa perlu mengunjungi suatu tempat, tanpa perlu menulis, tanpa perlu berkata, cukup dengan menggunakan satu indera.
Seketika, kilas balik akan momen-momen itu terulang kembali, menghindari ingatan, dan berbagai macam emosi membawa tubuh kita masuk dan terbuai ke dalam cerita yang sudah lama tersimpan.
Begitulah kiranya, aroma dengan segala ceritanya dalam menembus waktu. Dan jika kamu sudah membaca sampai sini, kami ucapkan selamat.
Karena kamu, akan menjadi salah satu orang penjelajah waktu bersama Uchi Parfume. Setiap aroma yang kamu ciptakan bersama kami adalah sebuah pembuka gerbang menuju kisah dalam hidupmu.
Seperti beberapa cerita yang masih kami ingat, meskipun sudah berlalu, tapi tetap hidup dalam ingatan kami.
Bukan hanya karena terlalu bahagia, tapi justru karena terlalu dalam, penuh duka, dan amarah.
Kami sudah mendengar banyak cerita, tapi ada satu yang tidak pernah lepas dari ingatan kami, barangkali kamu pun pernah merasakannya. Sebuah kisah tentang "aroma yang isinya penuh kerinduan dan luka di masa lalu"
Salah satunya terjadi tepat pada Sabtu sore, 31 Juli tahun lalu. Hari itu langit sedikit menggantung kelabu, tapi enggan menurunkan hujan. Store kami juga tidak ramai, hanya ada lagu 'right here waiting' dari Richard Mark yang terputar di tv. Lalu, dia datang, seorang perempuan muda, kira-kira 23 tahun. Wajahnya cantik alami tidak tercemar banyak makeup. Outfitnya lucu sekali dengan style 'cewe kue' pada masanya, rambutnya terurai, lengkap dengan jepit rambut berwarna pink di kepalanya.
"Bang, mau rekomendasí wangi floral yah, yang lembut, manis, terus nggak nyengat gitu"
Kami melihat cara dia berbicara, nadanya lembut sekali, manis, dan tidak ada sedikitpun celah kesedihan tersimpan di raut wajahnya. Senyumnya hangat, matanya berbinar, keliatannya sih mood-nya lagi bagus, ya. Kami bahkan tidak melihat ada satu pun tanda bahwa ia sedang membawa luka. Hanya perempuan muda biasa, yang datang mencari aroma yang dia suka untuk menyempurnakan harinya.
Kami sudah mendengar banyak cerita, tapi ada satu yang tidak pernah lepas dari ingatan kami, barangkali kamu pun pernah merasakannya. Sebuah kisah tentang "aroma yang isinya penuh kerinduan dan luka di masa lalu"
Salah satunya terjadi tepat pada Sabtu sore, 31 Juli tahun lalu. Hari itu langit sedikit menggantung kelabu, tapi enggan menurunkan hujan. Store kami juga tidak ramai, hanya ada lagu 'right here waiting' dari Richard Mark yang terputar di tv.
Lalu, dia datang, seorang perempuan muda, kira-kira 23 tahun. Wajahnya cantik alami, tidak tercemar banyak makeup. Outfitnya lucu sekali dengan style 'cewe kue' pada masanya, rambutnya terurai, lengkap dengan jepit rambut berwarna pink di kepalanya.
"Bang, mau rekomendasí wangi floral yah, yang lembut, manis, terus nggak nyengat gitu"
Kami melihat cara dia berbicara, nadanya lembut sekali, manis, dan tidak ada sedikitpun celah kesedihan tersimpan di raut wajahnya.
Senyumnya hangat, matanya berbinar, keliatannya sih mood-nya lagi bagus, ya. Kami bahkan tidak melihat ada satu pun tanda bahwa ia sedang membawa luka.
Hanya perempuan muda biasa, yang datang mencari aroma yang dia suka untuk menyempurnakan harinya.
Kami mengeluarkan lima aroma floral yang manis, lembut, dan feminin. Persis kaya karakternya. Ia mencium satu per satu, perlahan, kaya lagi membaca puisi, dalam banget.
"Wangi yang ini enak, Bang. aku suka, cocok lagi sama aku. Tapi ... ada rekomendasi lain nggak ya, kek aroma woody gitu"
Kami sempat ragu. "Woody? Tapi bakal beda banget sama yang tadi, wanginya nggak lembut terus nyengat, kak."
"Gapapa, sih. Aku mau nyobain beberapa aja"
Kami berikan tiga aroma woody. Pas dia nyium wangi terakhir, dia terdiam ...
Kami sempet kaget karena wajahnya sontak berubah, tiba-tiba murung dalam hitungan detik, dan dia menutup kedua mata beberapa saat,
lalu menangis ...
Kami panik, mengira aromanya nggak cocok. Tapi dia tersenyum ...
"Hehe, maaf... ini aroma yang aku cari, Bang"
"Kakak yakin, nggak yang floral aja?"
"Iya, aku emang suka parfum floral, sih. Tapi, aku lagi butuh aroma yang ini"
Kami melihat, tangannya masih bergetar waktu memegang paper sniff
dari tester aroma itu. Dia lanjut berkata,
"Ini aroma dia, Bang. Dulu, setiap ketemu, dia pasti pake aroma ini.
Kadang bawa bunga ke rumah, tapi tu bunganya ikutan wangi
woody persis kaya gini. Aneh ya?" Dia tertawa kecil.
Kami mengeluarkan lima aroma floral yang manis, lembut, dan feminin. Persis kaya karakternya. Ia mencium satu per satu, perlahan, kaya lagi membaca puisi, dalam banget.
"Wangi yang ini enak, Bang. aku suka, cocok lagi sama aku. Tapi ... ada rekomendasi lain nggak ya, kek aroma woody gitu"
Kami sempat ragu. "Woody? Tapi bakal beda banget sama yang tadi, wanginya nggak lembut terus nyengat, kak."
"Gapapa, sih. Aku mau nyobain beberapa aja"
Kami berikan tiga aroma woody. Pas dia nyium wangi terakhir, dia terdiam ... Kami sempet kaget karena wajahnya sontak berubah, tiba-tiba murung dalam hitungan detik, dan dia menutup kedua mata beberapa saat, lalu menangis ...
Kami panik, mengira aromanya nggak cocok. Tapi dia tersenyum ...
"Hehe, maaf... ini aroma yang aku cari, Bang" "Kakak yakin, nggak yang floral aja?" "Iya, aku emang suka parfum floral, sih. Tapi, aku lagi butuh aroma yang ini"
Kami melihat, tangannya masih bergetar waktu memegang paper sniff dari tester aroma itu. Dia lanjut berkata,
"Ini aroma dia, Bang. Dulu, setiap ketemu, dia pasti pake aroma ini. Kadang bawa bunga ke rumah, tapi tu bunganya ikutan wangi woody persis kaya gini. Aneh ya?" Dia tertawa kecil.
Kami cuma membalas dengan senyum tipis sambil melihat raut wajahnya penuh keharuan.
"Tapi sekarang udah nggak bareng sih. Dia ninggalin aku demi cewe lain Bang, jahat ya wkwkwk"
Kami terdiam.
"Eh Bang, santai aja napa, jan jadi canggung wkwkwk. Aku kebablasan cerita, ya?"
"Hahaa, aman aja, kak! Kalo bikin keinget terus kenapa dibeli kak? Nggak dilupain aja gitu?"
"Aroma ini tu sebenarnya bikin aku happy Bang, soalnya bisa ngerasa kaya lagi dicintai.
Tapi, at the same time, wangi ini juga bikin aku sadar, kalo aku nggak dijadiin pilihan.
Paradoks, ya?"
Sebelum pulang, dia membeli varian itu. Kami sempet make sure lagi.
"Kakak yakin beli yang ini?"
"Iya Bang, tenang aja. Soalnya ... kalo aku terus-terusan lari dari aroma ini, aku nggak bakal pernah selesai .. Masa setiap kali cium bunga yang ada di rumah atau gak sengaja lewat di jalan aku langsung nangis. Kan ga enak, Bang. Ini juga cara yang aku ambil sih buat berdamai sama masa lalu. Ya, seenggaknya aku bisa belajar biar nggak takut lagi pas inget tentang dia."
"Sempet kaget sih soalnya keliatan cerita banget, apalagi pas tadi minta rekomendasi wangi floral yang manis dan soft, kek bener-bener karakter kakak nya. Ehh, tapi tadi tiba-tiba nangis"
"Iya, Bang. Soalnyakan, karakter bisa kita bentuk sendiri, ya. Entah dari cara kita berpakaian, atau cara kita berbicara, dan memperlakukan orang di sekitar kita. Tapi,
perasaan yang sebenarnya nggak pernah bisa bohong."
Kami cuma membalas dengan senyum tipis sambil melihat raut wajahnya penuh keharuan. "Tapi sekarang udah nggak bareng sih. Dia ninggalin aku demi cewe lain Bang, jahat ya wkwkwk"
Kami terdiam.
"Eh Bang, santai aja napa, jan jadi canggung wkwkwk. Aku kebablasan cerita, ya?" "Hahaa, aman aja, kak! Kalo bikin keinget terus kenapa dibeli kak? Nggak dilupain aja gitu?"
"Aroma ini tu sebenarnya bikin aku happy Bang, soalnya bisa ngerasa kaya lagi dicintai. Tapi, at the same time, wangi ini juga bikin aku sadar, kalo aku nggak dijadiin pilihan. Paradoks, ya?"
Sebelum pulang, dia membeli varian itu. Kami sempet make sure lagi.
"Kakak yakin beli yang ini?" "Iya Bang, tenang aja. Soalnya ... kalo aku terus-terusan lari dari aroma ini, aku nggak bakal pernah selesai .. Masa setiap kali cium bunga yang ada di rumah atau gak sengaja lewat di jalan aku langsung nangis. Kan ga enak, Bang. Ini juga cara yang aku ambil sih buat berdamai sama masa lalu. Ya, seenggaknya aku bisa belajar biar nggak takut lagi pas inget tentang dia."
"Sempet kaget sih soalnya keliatan cerita banget, apalagi pas tadi minta rekomendasi wangi floral yang manis dan soft, kek bener-bener karakter kakak nya. Ehh, tapi tadi tiba-tiba nangis"
"Iya, Bang. Soalnya kan, karakter bisa kita bentuk sendiri, ya. Entah dari cara kita berpakaian, atau cara kita berbicara, dan memperlakukan orang di sekitar kita. Tapi, perasaan yang sebenarnya nggak pernah bisa bohong."
Dari ceritanya, kami mulai sadar. Jika perempuan ini sedang berusaha menyembunyikan banyak hal di kepalanya, tentang rasa dikhianati, ketakutan yang membuatnya rapuh, dan perasaan tidak dijadikan pilihan. Dia bungkus semua luka itu sangat rapi dengan senyuman yang nyaris tidak pernah pudar, seolah dunia di sekelilingnya baik-baik saja. Tapi ternyata, satu aroma bisa menunjukkan bagaimana perasaan dia yang sebenarnya ...
Ada ironi yang begitu kuat di sana, bahwa karakter ceria yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan dirinya yang sebenarnya. Senyum bisa membohongi banyak orang, tapi aroma tidak akan pernah bisa.
Dia, datang ke sini bukan cuma membeli parfum, tapi juga mencari bagian dari dirinya yang sempat hilang sejak lama "kuat" dan "baik-baik saja." Dia datang, karena dia ingin mengingat dan berdamai dengan perasaannya yang masih belum selesai. Walaupun dia tahu, cara ini akan membuat semua kenangan itu kembali muncul.
Saat pintu tertutup,
kami masih terdiam.
Ternyata, bagi sebagian orang, aroma yang paling kita sukai sebelumnya, bisa menjadi kenangan yang menyimpan banyak luka.
Dari ceritanya, kami mulai sadar. Jika perempuan ini sedang berusaha menyembunyikan banyak hal di kepalanya, tentang rasa dikhianati, ketakutan yang membuatnya rapuh, dan perasaan tidak dijadikan pilihan.
Dia bungkus semua luka itu sangat rapi dengan senyuman yang nyaris tidak pernah pudar, seolah dunia di sekelilingnya baik-baik saja. Tapi ternyata, satu aroma bisa menunjukkan bagaimana perasaan dia yang sebenarnya ...
Ada ironi yang begitu kuat di sana, bahwa karakter ceria yang tampak di permukaan belum tentu mencerminkan dirinya yang sebenarnya.
Senyum bisa membohongi banyak orang, tapi aroma tidak akan pernah bisa.
Dia, datang ke sini bukan cuma membeli parfum, tapi juga mencari bagian dari dirinya yang sempat hilang sejak lama "kuat" dan "baik-baik saja."
Dia datang, karena dia ingin mengingat dan berdamai dengan perasaannya yang masih belum selesai. Walaupun dia tahu, cara ini akan membuat semua kenangan itu kembali muncul.
Saat pintu tertutup, kami masih terdiam.
Ternyata, bagi sebagian orang, aroma yang paling kita sukai sebelumnya, bisa menjadi kenangan yang menyimpan banyak luka.
*** ***
Jika kamu sudah baca sampai di sini, selamat, kamu akan bertemu dengan cerita pertama kami. Cerita dari seseorang yang berhasil menembus waktu bersama Uchi Parfume ...
Dia tidak hanya mencium, tapi membiarkan dirinya tenggelam dalam mesin waktu yang penuh dengan perasaan haru, bahagia, dan sedih dalam satu waktu, yang barangkali momen-momen itu sudah tidak bisa terulang lagi ...
Ini dia, cerita keharuman bunga melati yang berhasil mengikuti jejak perjalanan Kaen mengejar mimpinya sebagai seorang penari dan pecinta seni ...